Analisis Teologi Queer terhadap Imamat 18:22: "Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan"

Mengapa sebenarnya ayat ini melarang inses laki-laki, bukan hubungan sesama jenis.

Daftar isi
Seri 🙏 Teologi Queer
Analisis Teologi Queer terhadap Imamat 18:22: "Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan"

Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian (Imamat 18:22).

Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri (Imamat 20:13).

Imamat 18:22 adalah ayat pendek yang menjadi pusat pembahasan artikel ini. Imamat 20:13 hampir secara harfiah sejalan dengannya: ayat kedua mengulangi rumusan pertama dan menambahkan ketetapan tentang hukuman mati.

Dalam korpus Perjanjian Lama, kedua ayat ini menempati posisi yang hampir terisolasi. Di kitab-kitab lain tidak ada gaung atau kutipan ulang dari ayat-ayat tersebut.

Frasa “Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian” biasanya dipahami sebagai larangan terhadap seks sesama jenis laki-laki. Dalam pembacaan seperti ini, ayat tersebut dipandang sebagai pernyataan yang tidak ambigu tentang sikap Tuhan terhadap praktik semacam itu dan digunakan sebagai dasar untuk melarang hubungan sesama jenis.

Dalam artikel ini, kita akan membahas penelitian alkitabiah modern, termasuk karya-karya teolog queer yang menawarkan penafsiran lain.

Menurut pendekatan ini, yang dibicarakan bukanlah larangan terhadap hubungan sesama jenis di luar ikatan keluarga, melainkan larangan terhadap inses antara laki-laki di dalam satu keluarga. Kesimpulan ini didasarkan pada analisis filologis yang terperinci terhadap teks asli bahasa Ibrani kuno.

Kepada Siapa Kitab Imamat Ditujukan

“Imamat” (dalam bahasa aslinya berkaitan dengan suku Lewi) adalah salah satu kitab dalam Alkitab; nama aslinya dapat dipahami sebagai “kitab tentang orang Lewi”.

Orang Lewi adalah salah satu suku Israel yang menjadi asal para pelayan bait suci. Namun, status imam utama tidak dimiliki oleh semua orang Lewi, melainkan oleh para kohen—keturunan Harun. Hanya merekalah yang berhak mempersembahkan korban.

Kitab ini ditujukan terutama kepada para imam. Di dalamnya terdapat ketetapan mengenai tata cara persembahan korban, aturan-aturan tentang tahir dan najis secara ritual, serta peraturan yang menentukan tindakan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam ibadah.

Dari sini orang bisa saja menyimpulkan bahwa larangan dalam Imamat 18:22 tidak berlaku bagi manusia modern, karena kita bukan bagian dari keimaman Ibrani kuno. Namun, argumen ini lemah. Pengetahuan tentang kitab ini diwajibkan bagi seluruh bangsa Israel, karena kitab tersebut juga menetapkan norma-norma perilaku serta membatasi apa yang diizinkan dan apa yang dilarang.

Dalam tradisi Kristen, biasanya diyakini bahwa setelah kedatangan Yesus Kristus, ketetapan kultus Imamat telah kehilangan kekuatan mengikatnya. Persembahan korban hewan, larangan makanan, misalnya larangan makan daging babi atau makanan laut, serta penyucian ritual dikaitkan dengan kultus bait suci Israel kuno dan saat ini tidak lagi dipandang sebagai hal yang harus dilaksanakan secara harfiah.

Dalam berbagai diskusi, orang juga merujuk pada Imamat 25, yang memuat ketentuan yang mengizinkan perbudakan. Fakta ini digunakan sebagai argumen untuk menentang pembacaan harfiah dan penerapan Imamat 18:22 di masa modern: jika sebagian dari ketetapan Perjanjian Lama, termasuk izin perbudakan, tidak lagi dianggap wajib, maka larangan-larangan lainnya juga tidak perlu diikuti.

Meskipun demikian, ketetapan moral dalam kitab ini—misalnya, larangan membunuh dan mencuri, serta perintah “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”—dalam kekristenan biasanya dianggap tetap berlaku. Sementara itu, dalam Yudaisme, kitab “Imamat” terus dipahami sebagai bagian dari Hukum yang berlaku secara keseluruhan.

Penafsiran Tradisional: Larangan terhadap “Sodomi”

Dalam tradisi Ortodoks, Imamat 18:22 dipahami sebagai larangan mutlak terhadap “sodomi” dan praktik-praktik serupa. Alexander Lopukhin, misalnya, menulis:

“Larangan terhadap jenis-jenis dosa daging yang paling menjijikkan—sodomi… disertai dengan petunjuk tentang keberadaannya di antara orang-orang Kanaan, yang untuk itu mereka akan dibalas dengan adil.”

Teologi Katolik mengambil posisi yang berdekatan. Dalam dokumen-dokumen kepausan, larangan ini digolongkan ke dalam ketetapan moral Hukum yang tetap memiliki kekuatan mengikat bahkan setelah kedatangan Yesus Kristus.

Di lingkungan Protestan, tidak ada satu pendekatan yang seragam. Penilaian yang ada berbeda-beda. Para apologet modern, termasuk orang Kristen LGBT, lebih sering berfokus bukan pada keberadaan larangan itu sendiri di dalam teks, melainkan pada statusnya: apakah larangan tersebut harus dianggap sebagai bagian dari ketetapan ritual yang, menurut pemahaman Kristen, telah kehilangan sifat wajibnya setelah Kristus, atau sebagai norma moral yang terus berlaku.

Penafsiran Teologi Queer dan Pendekatan Serupa

Dalam penelitian modern yang berkaitan dengan teologi queer, telah diajukan beberapa interpretasi terhadap Imamat 18:22. Di antaranya, terdapat tiga pendekatan yang dapat dibedakan berdasarkan metode dan argumentasinya.

Teolog dan profesor Daniel A. Helminiak memandang ayat ini terutama dalam konteks historis-religius. Ia mengaitkan larangan tersebut dengan tugas untuk memisahkan Israel dari praktik-praktik kultus bangsa-bangsa tetangga dan dengan sistem kemurnian ritual.

Dalam The Expositor’s Bible Commentary (Komentar Alkitab Eksegetis), tata bahasa dari rumusan tersebut dianalisis dan kemungkinan makna larangan yang lebih sempit didiskusikan. Komentar ini menyajikan teori Rabi Jacob Milgrom, yang menurutnya teks tersebut mungkin merujuk pada situasi inses yang spesifik.

Analisis filologis yang paling terperinci ditawarkan oleh K. Renato Lings. Ia membedah kosakata dan konstruksi gramatikal ayat tersebut dan sampai pada kesimpulan bahwa Imamat 18:22 harus dipahami sebagai larangan terhadap inses laki-laki, bukan sebagai kecaman universal terhadap hubungan sesama jenis.

Selanjutnya, masing-masing dari ketiga pendekatan ini akan dibahas secara terpisah.

Interpretasi Helminiak: Larangan sebagai Sarana Memisahkan Israel dari Kultus-Kultus Tetangga

Helminiak bertolak dari dua tesis. Pertama, ketetapan dalam kitab Imamat ditujukan kepada laki-laki dan tidak berlaku untuk hubungan sesama jenis perempuan. Kedua, larangan tersebut tidak terkait dengan penilaian universal terhadap perilaku seksual, melainkan dengan pemisahan religius: tindakan sesama jenis laki-laki dalam kitab Imamat tampil sebagai tanda penyerupaan dengan orang “kafir” dan keterlibatan dalam praktik kultus “asing”. Dalam pembacaan seperti ini, yang dibicarakan adalah suatu bentuk kemurtadan religius dan pelanggaran kesetiaan terhadap perjanjian.

Penafsiran ini bersandar pada letak larangan tersebut di dalam apa yang disebut Kodeks Kekudusan—kumpulan ketetapan yang dimaksudkan untuk menjaga Israel tetap “kudus”, yaitu terpisah dari bangsa-bangsa tetangga. Di awal pasal 18, kerangka dasar ditetapkan: janganlah berbuat seperti di Mesir dan Kanaan, dan janganlah mengikuti ketetapan mereka. Selanjutnya terdapat daftar praktik yang berkaitan dengan agama Kanaan dan disebut sebagai “kekejian”: motif kesuburan, seks selama masa menstruasi, pengorbanan anak-anak kepada Molokh. Dengan latar belakang ini, larangan tindakan sesama jenis laki-laki dimasukkan ke dalam deretan yang sama sebagai satu lagi tanda dari sesuatu yang “asing” dan secara ritual tidak dapat diterima.

Helminiak menjelaskan logika ini melalui sebuah analogi. Seorang umat beragama modern mungkin merasa marah terhadap “ritual setan” yang mengandung elemen seksual bukan karena seks itu sendiri, melainkan karena penyembahan kepada objek yang “salah”. Menurut logika ini, di dalam kitab Imamat pun yang dikecam terutama adalah pengkhianatan religius, bukan praktik seksual sebagai kategori etika universal.

Dari sini ia menyimpulkan adanya ketidaksebandingan kondisi. Dalam sebagian besar konteks modern, seks bukanlah bagian dari ritual religius, sehingga alasan-alasan larangan kuno tersebut tidak sejalan dengan apa yang diperdebatkan saat ini dalam diskusi tentang homoseksualitas. Ketika Imamat dikutip sebagai jawaban atas pertanyaan apakah hal itu etis atau tidak, terjadi pergeseran topik: teks tersebut, dalam pembacaannya, mengatur batas-batas komunitas dan kesetiaan pada perjanjian, bukan merumuskan teori moral universal tentang perilaku seksual.

Satu blok argumen tersendiri berkaitan dengan kata “kekejian”. Dalam terjemahan, kata ini terdengar seperti vonis moral, tetapi dalam konteks Ibrani kuno kata ini terkait dengan sistem kemurnian ritual. Dalam Imamat 20:25–26, hal yang “keji” berdampingan dengan larangan untuk “menajiskan” diri dengan hewan dan burung yang haram. Dalam logika ini, “kekejian” berfungsi sebagai salah satu jenis “kenajisan” dan sebagai pelanggaran terhadap aturan kemurnian ritual. Prinsip yang sama, menurut Helminiak, terlihat dalam larangan makanan, larangan “pencampuran”—benih dan benang—serta dalam keadaan najis sementara yang berkaitan dengan menstruasi, pancaran mani, persalinan, dan kontak dengan kematian.

Logika internal dari larangan-larangan ini sulit untuk direkonstruksi. Penjelasan “sanitasi”, menurut Helminiak, tidak berlaku: hal itu tidak menjelaskan larangan pencampuran kain dan tidak sejalan dengan deskripsi penyakit kulit. Dalam Imamat 13:13, ketahiran tidak dikaitkan dengan penularan, melainkan dengan keutuhan kondisi: orang yang seluruh tubuhnya terkena penyakit justru dinyatakan tahir.

Oleh karena itu, kategori “tahir” dan “najis” dipahaminya sebagai elemen-elemen dari sistem ritual, bukan sebagai kategori etika itu sendiri. Budaya modern juga bersandar pada gagasan tentang apa yang “kotor” dan “tidak pantas”, tetapi lebih sering hal itu merupakan tabu sosial dan reaksi jijik yang dipelajari. Namun, rasa jijik tidak sama dengan kesalahan moral: sesuatu yang “kotor” mungkin saja sekadar sesuatu yang tidak biasa. Seiring berjalannya waktu, larangan-larangan semacam itu mulai dianggap sebagai sesuatu yang “abadi” dan bahkan “ilahi”, meskipun awalnya muncul sebagai norma dari lingkungan tertentu.

Dalam kerangka ini, pengklasifikasian tindakan sesama jenis laki-laki sebagai “kekejian” berarti, menurut Helminiak, memasukkannya ke dalam ranah kenajisan ritual dan sesuatu yang “asing”, bukan sebagai penegasan bahwa hal itu adalah “kejahatan pada hakikatnya”. Argumen tambahan dilihatnya pada perbedaan istilah-istilah Ibrani kuno. Dalam Imamat 18:22, kata yang digunakan adalah tō’evâ, yang dapat dipahami sebagai “kenajisan”, “kecemaran”, atau “tabu”, berbeda dengan zimmâ, yang merujuk pada kejahatan itu sendiri. Oleh karena itu, tindakan di sini ditandai sebagai tabu dan pelanggaran ritual, bukan sebagai dosa etis dalam arti universal.

Untuk mendukung pembacaan ini, Helminiak merujuk pada Septuaginta—terjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Yunani kuno bagi orang Yahudi berbahasa Yunani. Dalam Imamat 18:22, kata tō’evâ diterjemahkan sebagai βδέλυγμα (bdélugma), yaitu istilah dari zona kenajisan ritual yang sama. Padahal para penerjemah bisa saja memilih ἀνομία (anomia), “pelanggaran hukum”, yang dalam bahasa Alkitab muncul ketika berbicara tentang kekerasan atau ketidakadilan yang nyata. Pemilihan βδέλυγμα dipandang Helminiak sebagai argumen tambahan yang mendukung pembacaan ritual. Baginya, ini menunjukkan bahwa dalam Yudaisme pra-Kristen, larangan tersebut mungkin dipahami bukan sebagai penegasan “ini adalah kejahatan pada hakikatnya”, melainkan sebagai petunjuk: “ini najis dan terkait dengan kultus-kultus asing”.

Kesimpulan akhir Helminiak adalah bahwa Imamat 18:22 melarang tindakan sesama jenis laki-laki karena dampak budaya dan religiusnya dalam lingkungan historis tertentu dan tidak merumuskan etika universal untuk tindakan seksual. Oleh karena itu, penggunaan ayat ini sebagai argumen dalam diskusi moral Kristen modern mengenai seks sesama jenis dianggapnya tidak tepat: teks kuno dan perdebatan modern merujuk pada isu dan konteks yang berbeda.

Namun, bahkan jika interpretasi historis-religius ini diterima, masih ada pertanyaan-pertanyaan lain yang diajukan oleh komunitas LGBT terhadap Imamat 18:22. Misalnya, bagaimana menghubungkan kitab Imamat dengan Perjanjian Baru tanpa mereduksi pembicaraan menjadi sekadar kutipan selektif.

Apa yang Ditulis oleh The Expositor’s Bible Commentary

The Expositor’s Bible Commentary (EBC) — sebuah seri komentar multi-volume besar berbahasa Inggris mengenai kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Saat menganalisis larangan dari kitab Imamat, para penulis komentar memusatkan perhatian pada kosakata dan konteks dari pasal 18.

Dalam EBC dicatat bahwa di dalam kitab Imamat kata “kekejian” muncul enam kali, dan empat penggunaannya terdapat di bagian akhir pasal 18. Fragmen ini mendeskripsikan praktik-praktik yang ditandai sebagai “Kanaan” dan “menajiskan tanah”. Dengan latar belakang ini, para penulis komentar menganggap bahwa tindakan sesama jenis laki-laki dalam konteks tersebut kemungkinan besar dipandang sebagai elemen dari kultus asing.

Komentar ini juga menyinggung latar belakang Timur Dekat kuno yang lebih luas. Menurut penilaian EBC, di Timur Dekat kuno, homoseksualitas jarang dilarang oleh hukum, kecuali dalam kasus-kasus kekerasan. Sebagai pengecualian, Hukum Asyur Pertengahan disebutkan. Di wilayah-wilayah lain, sejauh yang dapat dinilai dari data yang ada, praktik-praktik semacam itu bisa ditoleransi, dan kadang-kadang memperoleh status kultus.

Secara terpisah, EBC membahas pandangan Jacob Milgrom—seorang pakar Alkitab Yahudi dan rabi yang berspesialisasi pada kitab Imamat dan hukum-hukum kultus Taurat. Milgrom menaruh perhatian pada detail gramatikal dari rumusan tersebut: kata “laki-laki” berada dalam bentuk tunggal, sedangkan ungkapan “secara orang bersetubuh dengan perempuan”, yang dalam bahasa aslinya diterjemahkan sebagai “tempat-tempat tidur perempuan”, digunakan dalam bentuk jamak.

Ia juga menekankan keunikan dari rumusan yang diperdebatkan tersebut, yang biasanya diterjemahkan sebagai “tidur secara orang bersetubuh dengan perempuan”: dalam bentuk seperti itu, rumusan ini hanya muncul di sini. Namun, konstruksi “tidur sebagai…” itu sendiri memiliki paralel dan muncul dalam Alkitab Ibrani sebanyak lima kali. Dalam empat dari kasus-kasus tersebut, yang dibicarakan adalah tempat tidur sebagai sebuah tempat, dan konstruksi tersebut tidak selalu merujuk pada tindakan seksual.

Berdasarkan hal ini, Milgrom mengusulkan untuk memahami ungkapan tersebut sebagai penunjuk pada “tempat tidur” atau “ranjang”, yaitu sebagai rujukan pada situasi dan konteks, bukan sebagai deskripsi dari suatu tindakan. Hal ini mengarah pada kesimpulan yang lebih sempit: menurut Milgrom, yang dilarang di sini secara spesifik adalah inses homoseksual di antara orang Israel di tanah Israel.

Argumen K. Renato Lings: Analisis Filologis Teks Ibrani Kuno dan Masalah Terjemahan

K. Renato Lings, seorang teolog modern, penerjemah, dan penafsir teks-teks Alkitab, dalam karya-karyanya membenarkan posisi bahwa Imamat 18:22 dan Imamat 20:13 tidak melarang semua hubungan sesama jenis, melainkan hubungan inses antara laki-laki. Pendekatannya didasarkan pada fakta bahwa kosakata dari ayat-ayat ini sangat kuno sehingga, meskipun tampak sederhana di permukaan, ayat-ayat tersebut tidak dapat diterjemahkan secara ambigu dan membutuhkan analisis filologis yang terperinci.

Lings menaruh perhatian pada bagaimana hal “laki-laki” dilambangkan dalam Imamat 18:22. Pada pandangan pertama, orang mungkin mengharapkan kata Ibrani kuno yang biasa untuk “laki-laki” — ’īš. Namun, dalam teks tersebut terdapat kata benda yang lebih langka, zākhār, yang makna dasarnya diterjemahkan sebagai “jantan” atau “laki-laki”. Kata ini digunakan baik untuk manusia maupun untuk hewan. Dalam kisah penciptaan, di Kejadian 1:27, kata ini berdiri berdampingan dengan istilah perempuan pasangannya, neqēvâ, yang diterjemahkan sebagai “betina” atau “perempuan”. Bagi Lings, penggantian ’īš dengan zākhār sangatlah prinsipil, karena hal itu mengubah nuansa pernyataan dan, akibatnya, dapat memengaruhi interpretasi.

Dalam tradisi Masoretik, Imamat 18:22 disampaikan sebagai dua frasa pendek:

w’eth-zākhār lō’ tiškav miškevē ‘iššâ

Lings membedah ungkapan ini bagian demi bagian. Partikel w- secara fungsi mirip dengan kata sambung “dan”. Kombinasi ’eth-zākhār mencakup elemen gramatikal ’eth dan kata benda zākhār — “jantan” atau “laki-laki”. Partikel lō’ berarti negasi “tidak”. Bentuk tiškav diterjemahkan sebagai “engkau akan berbaring” atau “engkau akan tidur”. Jika bagian pertama diterjemahkan secara berurutan dan harfiah, hasilnya kira-kira: “Dan dengan laki-laki engkau tidak akan tidur”. Sampai di sini, sintaksisnya terlihat relatif sederhana.

Apa Makna Ungkapan “Secara Orang Bersetubuh dengan Perempuan”?

Menurut Lings, kesulitan utama dari Imamat 18:22 terpusat pada bagian kedua dari ayat tersebut — pada ungkapan miškevē ‘iššâ. Ungkapan ini dapat diterjemahkan sebagai “tindakan-tindakan berbaring perempuan”, “tempat-tempat tidur perempuan”, atau “pembaringan perempuan”. Konstruksi inilah yang membuat frasa tersebut menjadi ambigu secara sintaksis.

Terjemahan tradisional biasanya menjabarkannya ke dalam bentuk yang nyaman bagi pembaca modern: “janganlah engkau tidur secara orang bersetubuh dengan perempuan”. Lings menganggap keputusan seperti itu sudah merupakan sebuah interpretasi, karena frasa Ibrani kuno tersebut lebih pendek dan tersusun secara berbeda.

Ia menyoroti dua pengamatan gramatikal yang, menurutnya, mengubah gambaran tersebut.

Pertama berkaitan dengan tidak adanya partikel perbandingan. Di dalam teks tidak terdapat awalan kě- yang diharapkan, yang bermakna “seperti” atau “sebagaimana”. Di antara tiškav — “engkau akan berbaring”, “engkau akan tidur” — dan miškevē tidak ada penanda gramatikal untuk perbandingan. Oleh karena itu, bagian kedua sulit dibaca secara spesifik sebagai perbandingan: “secara orang bersetubuh dengan perempuan”. Jika dipahami secara harfiah, miškevē ternyata menjadi objek dari kata kerja “engkau akan tidur”, dan karena itu muncul sebuah keanehan sintaksis: objek dari tindakan tersebut adalah “tindakan-tindakan berbaring” itu sendiri.

Pengamatan kedua berkaitan dengan elemen gramatikal ’eth. Elemen ini hadir di awal — pada kata zākhār, yaitu “laki-laki” — tetapi tidak diulangi di depan ‘iššâ, “perempuan”. Untuk membuat frasa tersebut terdengar alami dalam bahasa modern, terjemahan biasanya menambahkan kata depan kedua (“dengan”) dan bersamanya memasukkan kata “secara” atau “seperti”. Dengan demikian, mereka mengisi celah-celah makna yang di dalam teks aslinya dibiarkan terbuka.

Bagi Lings, pembentukan kata miškevē juga sangat penting. Kata benda ini dibentuk dari kata kerja šākhav, yang dapat berarti “berbaring” maupun “melakukan hubungan seksual”. Dalam kombinasinya dengan ‘iššâ, kata ini berada dalam status constructus, yaitu membentuk frasa seperti “tempat-tempat tidur perempuan” atau “tindakan berbaring perempuan”, bukan konstruksi “secara orang bersetubuh dengan perempuan” dan bukan sekadar “dengan perempuan”.

Oleh karena itu, terjemahan yang biasa, “janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan”, menurut Lings, gagal menyampaikan struktur dari frasa Ibrani kuno tersebut dengan baik. Jika dibaca secara harfiah, frasa itu lebih terlihat seperti “dan dengan laki-laki janganlah engkau tidur tindakan-tindakan berbaring perempuan” atau, lebih langsung lagi, “dan dengan laki-laki janganlah engkau tidur tempat-tempat tidur perempuan”.

Ungkapan miškevē ‘iššâ, yang diterjemahkan Lings sebagai “tempat-tempat tidur perempuan”, tidak memiliki paralel dalam teks-teks Alkitab lainnya. Hal ini menuntut kehati-hatian khusus dalam penafsiran. Kesulitan tambahan diciptakan oleh bentuk miškevē itu sendiri yang berada dalam bentuk jamak. Bentuk tunggal miškav, “tempat tidur”, muncul jauh lebih sering, sedangkan bentuk jamaknya secara harfiah menghasilkan “tindakan-tindakan pembaringan” atau “tempat-tempat tidur” dan terlihat tidak biasa juga karena secara gramatikal dikaitkan dengan ‘iššâ melalui akhiran -ē, membentuk konstruksi yang langka.

Lings mencari petunjuk di bagian-bagian lain dari Kitab Suci. Dalam Bilangan 31:18 terdapat ungkapan miškav zākhār, yang digunakan untuk perempuan yang belum pernah “bersetubuh dengan laki-laki” (secara harfiah “mengetahui tempat tidur laki-laki”). Dengan latar belakang norma-norma ketat tentang seksualitas di luar nikah, rumusan ini dapat dipahami sebagai penunjukan pada gadis-gadis yang belum pernah memasuki hubungan pernikahan, yaitu sebagai ungkapan yang terkait dengan tema seksualitas yang sah di dalam kerangka pernikahan.

Satu-satunya contoh bentuk jamak miškevē di luar kitab Imamat yang ditunjukkan oleh Lings terdapat di Kejadian 49:4. Di sana Yakub menegur Ruben atas hubungannya dengan Bilha, yang dideskripsikan di Kejadian 35:22. Di bagian ini, dua kata yang berbeda berdiri berdampingan. “Tempat tidur” fisik atau “alas tidur” dilambangkan dengan kata yātsūa’ dalam bentuk tunggal, sedangkan “tempat-tempat tidur” disampaikan secara spesifik dengan bentuk miškevē dalam bentuk jamak. Hal ini memungkinkan asumsi bahwa bentuk-bentuk tersebut tidak sepenuhnya dapat dipertukarkan. Salah satu varian pembacaan yang dipertimbangkan oleh Lings adalah sebagai berikut: yātsūa’ menyebutkan tempat kejadian, sedangkan bentuk jamak miškevē menekankan status bermasalah dari hubungan itu sendiri. Banyak terjemahan, seperti yang dicatatnya, menyederhanakan konstruksi ini, memperlakukan miškevē sebagai padanan biasa dari miškav dan dengan demikian menghapus perbedaan filologisnya.

Kisah Ruben dan Bilha menunjukkan mengapa penekanan ini bisa menjadi penting. Ruben adalah putra sulung Yakub dan Lea, salah satu dari dua belas putra. Bilha, yang juga dikenal sebagai Bilha, adalah gundik Yakub. Dalam pengertian kehidupan sehari-hari modern, hubungan mereka tidak terlihat seperti inses. Namun, menurut norma-norma kuno, hal itu masuk ke dalam deretan tabu inses sebagai “hubungan seksual dengan perempuan milik ayah”. Dalam logika Israel kuno, hal ini dideskripsikan seolah-olah Ruben telah “menyingkapkan aurat ayahnya” melalui perempuan milik ayahnya.

Dari sini Lings menyimpulkan: banyak terjemahan Imamat 18:22 dan Kejadian 49:4 menghindari bentuk miškevē yang langka dan sulit, dan dengan demikian secara de facto menyimpang dari prinsip lectio difficilior, yang menyatakan bahwa bacaan yang lebih sulit lebih diutamakan. Menurut logika ini, makna tersebut mungkin tersembunyi justru di dalam kesulitan gramatikal yang berusaha dihaluskan oleh terjemahan.

Hipotesis Lings tentang Larangan Inses Sesama Jenis

Satu-satunya contoh bentuk miškevē di luar kitab Imamat muncul dalam konteks hubungan terlarang antara Ruben dan Bilha. Hubungan ini diklasifikasikan sebagai inses dan berkorelasi dengan larangan-larangan terkait dalam kitab Imamat. Dengan latar belakang ini, miškevē memperoleh makna sebagai penanda yang dapat menghubungkan larangan Imamat dengan tema tabu seksual di dalam keluarga.

Di seluruh pasal Imamat 18, penekanan utama diberikan pada larangan-larangan di dalam kelompok kekerabatan. Oleh karena itu, kata ‘iššâ di dalam batas-batas pasal ini dapat dipahami sementara sebagai “perempuan dari keluarga”. Pasal ini mencantumkan berbagai hubungan terlarang, termasuk pernikahan dengan dua saudara perempuan, seks selama masa menstruasi, perselingkuhan, dan bestialitas.

Untuk memahami ungkapan miškevē ‘iššâ, komposisi pasal tersebut juga penting. Blok utama Imamat 18:6–17 mendeskripsikan inses melalui rumusan lěgalōth ‘erwâ — “menyingkapkan aurat” — dan memperkenalkan larangan umum terhadap hubungan seksual dengan kerabat terdekat (18:6). Karena miškevē ‘iššâ berada di dekat blok ini, kaitannya dengan tema inses, menurut logika ini, tidak dapat dikesampingkan.

Lings menarik argumen tambahan dari perbandingan dengan Imamat 20. Pasal ini dalam banyak hal paralel dengan Imamat 18, tetapi diorganisasikan secara berbeda: setiap pelanggaran memiliki hukumannya masing-masing, dan urutan temanya berubah secara nyata. Larangan yang berkaitan dengan “benih” untuk Molokh, yang di 18:21 terlihat sebagai episode terpisah, di Imamat 20 menjadi tema utama (20:2–5). Pengelompokan ulang semacam ini memaksa kita untuk membaca larangan-larangan yang sama dari sudut pandang yang berbeda dan, mungkin, memperjelas makna miškevē ‘iššâ.

Di dalam Imamat 20, konteks dari 20:13 sangatlah esensial. Dua ayat tepat sebelumnya, 20:11–12, didedikasikan untuk inses dan menetapkan hukuman mati untuknya. Di 20:13 hukuman yang sama ditetapkan untuk laki-laki yang terlibat dalam miškevē ‘iššâ. Kemudian, setelah blok sanksi yang singkat untuk pelanggaran-pelanggaran lainnya, tema inses kembali muncul di 20:17 dan 20:19–21.

Dari komposisi semacam ini muncul sebuah kesimpulan yang berhati-hati: kepastian penuh tidak bisa didapatkan di sini, tetapi struktur Imamat 20 mendukung hipotesis tentang kaitan miškevē ‘iššâ dengan bahasa yang digunakan di dalam kitab tersebut untuk mendeskripsikan hubungan inses.

Jika argumen-argumen ini diterima, Imamat 18:22 dapat dipahami sebagai klarifikasi terhadap larangan umum inses: larangan tersebut berlaku ke semua arah. Pada saat 18:22 muncul, sebagian besar kombinasi telah dicantumkan dan dilarang, dan miškevē ‘iššâ dalam pembacaan seperti ini berfungsi sebagai generalisasi. Hubungan dengan kerabat dekat berjenis kelamin laki-laki ternyata sama terlarangnya dengan hubungan inses dengan kerabat perempuan yang telah dicantumkan sebelumnya.

Pembacaan ini juga dibantu oleh bentuk jamak miškevē. Bentuk ini dapat dipahami sebagai rujukan pada seluruh kumpulan hubungan “perempuan” yang dideskripsikan di Imamat 18. Dalam kasus ini, tindakan seksual mundur ke latar belakang, dan pasal tersebut dibaca sebagai daftar jenis-jenis hubungan yang salah yang harus dihindari oleh orang Israel. Ke dalam logika yang sama juga masuk bestialitas — sebagai pemilihan pasangan yang salah — dan larangan yang berkaitan dengan Molokh — sebagai pemilihan penerima atau prosedur yang salah saat mempersembahkan “benih”.

Jika interpretasi ini benar, hal itu sebagian dapat dibandingkan dengan norma-norma tradisi hukum Timur Dekat kuno lainnya. Secara khusus, paragraf 189 dari hukum Het menetapkan hukuman untuk seks paksa yang dilakukan seorang laki-laki dengan ibu, anak perempuan, atau anak laki-lakinya.

Kesimpulan dari Argumentasi Lings dan Keterbatasannya

Jika diterima bahwa miškevē ‘iššâ berkaitan dengan inses, muncul pertanyaan praktis: dapatkah konstruksi ini diterjemahkan ke dalam bahasa modern yang dapat dipahami tanpa merusak maknanya. Sebagai varian kerja, diusulkan dua rumusan:

(a) “Engkau tidak boleh tidur dengan kerabat dekat — baik yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan.”

(b) “Dengan kerabat berjenis kelamin laki-laki engkau tidak boleh melakukan hubungan seksual yang dilarang untuk dilakukan dengan kerabat perempuan.”

Selanjutnya muncul satu masalah lagi, yang pada dasarnya dihindari oleh penafsiran-penafsiran tradisional.

Terjemahan biasa “secara orang bersetubuh dengan perempuan” terdengar netral dan menyiratkan bahwa “tidur dengan perempuan” secara umum diperbolehkan. Namun, hal ini tidak sejalan dengan konteks Imamat 18, di mana berdampingan dengannya terdapat larangan-larangan terhadap inses heteroseksual dan kejahatan seksual lainnya yang secara spesifik dilakukan dengan perempuan. Di pasal 18 dan 20, penyebutan perempuan hampir selalu dimasukkan ke dalam rumusan larangan. Bentuk jamak miškevē mungkin menunjuk bukan pada satu model perilaku, melainkan pada sekumpulan konfigurasi ilegal — yaitu pada berbagai bentuk inses heteroseksual yang telah dicantumkan di atas. Dengan kata lain, ungkapan standar “secara orang bersetubuh dengan perempuan” tidak sepenuhnya cocok dengan nada peringatan dan larangan secara keseluruhan yang mengatur ritme kedua pasal tersebut.

Imamat 18:22 diakhiri dengan kata-kata tō’evā hī’ — “itu suatu kekejian”. Kadang-kadang dari sini ditarik kesimpulan bahwa hubungan sesama jenis laki-laki di sini dinilai lebih keras daripada pelanggaran-pelanggaran lainnya. Namun, teks itu sendiri memberikan sedikit dasar untuk gradasi semacam itu.

Pasal 18 secara keseluruhan menarik batas kemurnian di sekitar lingkaran keluarga, untuk mengecualikan inses dan tindakan-tindakan lain yang merendahkan martabat dan merusak. Dalam konteks ini, tō’evâ di 18:22 hanya menandai perbuatan tersebut di antara sebutan-sebutan tajam lainnya. Di 18:17 terdapat zimmâ — “kebejatan”, “percabulan” — di 18:23 terdapat tēvel, yaitu “pencampuran yang tercela”, “kekacauan”. Selanjutnya, di 18:26, semua larangan di pasal tersebut dirangkum dengan bentuk jamak tō’evōth — “kekejian” — dan di ayat-ayat penutup 18:26–27, 29–30 kosakata ini berfungsi sebagai kesimpulan umum untuk seluruh daftar tersebut.

Akibatnya, tō’evâ di sini tampil sebagai kategori yang luas dan berulang, yang dengannya sang pembuat hukum menandai karakter ilegal dari seluruh kumpulan tindakan di Imamat 18. Oleh karena itu, tidak ada dasar untuk mengaitkan kata ini dengan tingkat kejijikan yang khusus pada satu poin lebih banyak daripada poin-poin lainnya. Dalam konteks ini, kata tersebut berfungsi sebagai label umum untuk perilaku yang menjauhkan laki-laki dan perempuan Israel dari jalan yang telah ditetapkan oleh YHWH.

***

Interpretasi K. Renato Lings memungkinkan kita untuk memandang Imamat 18:22 sebagai ayat yang dimasukkan ke dalam teks dengan fungsi tertentu. Jika ayat-ayat lain di Imamat 18 dan Imamat 20 pada dasarnya melarang praktik-praktik inses heteroseksual, maka Imamat 18:22 mungkin ditambahkan agar inses homoseksual juga masuk ke dalam daftar ini. Dalam pembacaan seperti ini, ayat tersebut terlihat sebagai elemen logis dari rangkaian rumusan larangan yang ditujukan untuk melawan praktik-praktik seksual transgresif. Inses ternyata dilarang dengan kerabat dekat mana pun, terlepas dari jenis kelaminnya.

Kumpulan argumen Lings, Helminiak, dan para peneliti lainnya memberikan dasar untuk tidak menganggap interpretasi homofobik terhadap Imamat 18:22 sebagai sesuatu yang terbukti dengan sendirinya. Meskipun demikian, di dalam korpus Alkitab terdapat bagian-bagian lain yang ditafsirkan sebagai larangan terhadap hubungan sesama jenis, termasuk di dalam Perjanjian Baru. Analisis terhadap bagian-bagian tersebut akan dibahas dalam artikel-artikel terpisah.

Literatur dan Sumber
  • Lopukhin A. P. Tolkovaya bibliya.
  • Longman Tremper III, Garland David E. The Expositor’s Bible Commentary: 1 Genesis–Leviticus. 2008.
  • Lings K. Renato. The «Lyings» of a Woman: Male-Male Incest in Leviticus 18.22?. 2009.
  • Daniel A. Helminiak. What the Bible Really Says About Homosexuality. 1994.

Materi terkait

Berita terbaru

Di Texas, Organisasi Pemuda LGBT Tertua OutYouth Memulai Pembangunan Pusat Komunitas Baru Yayasan Tom of Finland Putuskan Hubungan dengan Rumah Bersejarah Sang Seniman di Los Angeles Sejarawan Soroti Penerbitan Vice Versa, Majalah Lesbian Pertama di AS pada Tahun 1947